BAN

BAN
Buku Pidato 4 Bahasa Aceh, Arab, Inggris dan Indonesia Bahagi Pemula

Elegi Berkasih di Bandar Darussalam 1




Awal Bermula Daripada Pertemuan
***
-{({ 1 })}- 

Lama sudah akanpada sebuah perkenalan itu telah terjadi, meskipun sebelum-sebelumnya Azis memang sudah pernah kenal ianya dengan seorang perempuan yang bernama Lela, Lela bukanlah nama lengkap dari dara yang ia kenal tersebut. Walau hanya dahulu itu mereka sudah pernah berkenalan dan sudah saling sapa antara satu sama lainnya meskipun melalui short messege service (sms), tepatnya mereka itu sudah berkenalan lewat udara, walau hanya melalui sms sahaja. Namun mereka belum pernah bertemu muka di kala waktu.

Bahpun demikian yang namun mereka itu pernah tinggal dan bernaung di satu tempat berasrama, yang sama. Mungkin wajah wajah itu terkadang masih remang-remang di dalam imajinasi kerana keduanya belum pernah bertemu muka apalagi untuk bercakap-cakap walau hanya dalam satu patah kata sahaja secara berhadap-hadapan muka, keduanya itu sekalipun belum pernah bertemu empat mata.

Memang dahulu itu keduanya pernah berada dalam satu naungan yang sama tapi tak pernah bertegur dalam sapa walau pada dasarnya dahulu mereka itu pernah bersama-sama tinggal di tempat yang nyata tapi untuk bertukar pandang dan saling sapa sahaja belum pernah terjadi di dunia nyata apalagi untuk berkata akanpada sebuah kalimat penggugah jiwa “Abang, sayang Dinda” sungguh kalimat itu tak pernah terucap di masa.

Yang namun seiring berjalannya waktu adalah hubungan cinta antara keduanya kini sudah terbina, bisa dikatakan bahawa jalinan tersebut sudahlah terikat dalam sekerlip penglihatan, bahpun dahulunya memang sama-sama tapi memang benar-benar pula mereka itu belum pernah bertatap empat mata secara nyata adalah di alam terbuka bukan di dunia maya apalagi untuk jalan-jalan antara satu sama lainnya.

“Akan pemuda kampung yang bernama Azis Muhammad Zul, kini tengah membatin sendiri, ia tengah mengingat akanpada perkenalan dirinya dahulu dengan seorang dara yang sekarang ini akan perempuan tersebut sudahlah menjadi mantan kekasih haramnya, yangmana sekarang ini dara itu sudahlah ianya menjadi kekasih halal bahagi seorang pemuda kampung yang akrap dipanggil dengan nama Azis, pemuda yang memiliki milyaran cita-cita. Ia memiliki milyaran cita-cita dan terus berusaha untuk meraih itu, bukan hanya dikata sahaja akan cita-cita itu ada.”

“Hehe, lelaki itu adalah seorang pemuda kampung, kampungnya berada di daerah pesisir laut utara, kampungnya masih termasuk ke dalam kecamatan Dewantara, tepatnya akan kampung lelaki yang kini tengah melamun dan membatin sendiri itu bernama, Bluka Teubai. Adalah Bluka berasal dari kata Belukar, belekar itu bahasa Melayu, yang bermakna hutan belukar. Teubai itu bahasa aceh, yang berarti lebat atawa tebal. Dahulu kampungnya itu merupakan hutan lebat, beberapa kali penduduk di sana sudah pernah membabat hutan tebal itu namun masih sahaja bertumbuhan, maka dari hal itulah awal mula daripada nama kampungnya disebut dengan nama Bluka Teubai.”

“Tapi, ma’af-ma’af-lah, ya? Azis itu bukanlah seorang yang kampungan, ma’af saya terpaksa harus membela lelaki itu, hehe. Akan pemuda tersebut. Rakan-rakan ingin tahu atawa tidak bahawa siapa sebenarnya lelaki itu? Bahpun jawaban dari rakan-rakan adalah tidak mahu tahu tentang siapa dirinya yang sebenarnya tapi di sini saya akan membongkar data diri lelaki yang bernama lengkap Azis Muhammad Zul tersebut.”

“Sebenarnya lelaki itu, ia adalah diriku. Sayalah pemuda yang berasal dari kampung Bluka Teubai akan kampung yang terletak di daerah pesisir laut utara,” guman Aziz sembari sebuah senyuman bahagia hadir dari mulutnya, Azis berguman seolah-olah ia tengah bercerita kepada seseorang tak kala dirinya tengah membaca bahagian awal daripada novel pertamanya itu, adapun di bahagian awal novelnya itu bercerita tentang awal mula daripada bagaimana kisah cintanya itu terjalani di waktu, yangmana kisah asmaranya tersebut sengaja ditulis di awal bahagian novel pertamanya. Di malam Kamis yangmana langit tiada ditemani oleh bintang apalagi bulan begitu pula Azis ia tengah sendiri di malam yang semakin tak terdengar akan suara aktifitas daripada manusia. 


-{({ 2 })}-


Adalah Azis tengah membaca ulang akan cerita yang sudah ditulis olehnya sendiri, akan cerita yang ia kisahkan di dalam novel pertamanya tersebut merupakan hasil dari buah tangannya. Adapun pemeran utama di dalam buku novelnya tersebut adalah Azis Muhammad Zul, yang tidak lain dan tidak bukan melainkan dirinya sendiri, ia tidak menamai akan nama dari tokoh utama, akanpada sosok tokoh di dalam cerita itu dengan nama samaran lainnya.

Yangmana biasanya bahkan sudah pada umumnya, setiap penulis, baik itu penulis cerpen mahupun novel akanlah menamai akan tokoh utama di dalam kisah-kisah mereka itu dengan nama samaran, dengan memakai nama orang lain atawa pemeran utama di dalam kisah akan dinamai dengan nama siapa sahaja yang dikehendaki oleh si penulis itu sendiri. Namun Azis tidak demikian, adalah dengan menuliskan dirinya sendiri sebagai tokoh utama di dalam ceritanya itu merupakan suatu kehormatan, begitulah caranya untuk menghargai diri sendiri.

Azis tidak lagi menukar nama daripada tokoh utama di dalam buku novel perdananya itu bahpun sekalian kisah yang diceritakan di situ merupakan kisah asli daripada kisah yang dialami oleh dirinya sendiri, mulai dari awal ia mengenal Lela, menjalani hubungan cinta yang haram dengan dara berwajah India tersebut, juga tentang bagaimana perjuangan cintanya untuk Lela berhingga sampai mereka itu menikah keduanya.

Pada dasarnya memanglah dahulu Aziz dan Lela sama-sama pernah bersekolah di sebuah Dayah Modern, saban mereka itu melanjutkan belajarnya di sana setelah lulus daripada Sekolah Dasar di kampung masing-masingnya dan sama-sama pula enam tahun menuntut ilmu di dayah modern yang berada di kampung Paloh Meuria, yang berkecamatan Muara Satu. Kampung Paloh Meuria itu hanya berjarak beberapa meter dari PT Mega Raksasa.

Akan tetapi tahun selesai keduanya berbeda, empat sanah berselang pada masa, antara tahun dua ribu sembilan dan tahun dua ribu dua belas. Adalah Azis Muhammad Zul tamat pada tahun dua ribu sembilan sedangkan Lela baru selesai di tahun dua ribu dua belas. Akan pemuda kampung dan dara berwajah india itu empat tahun berbeda jarak pada angkatan tahun selesai, pemuda yang dahulunya belum diketahui menyukai dunia sastra adalah lebih dahulu selesai daripada dara yang kini sudah menjadi ibu dari anak anaknya.  

Jelas, kerana keduanya itu bukanlah seangkatan atawa tidaklah seleting akan keduanya semasa di dayah modern tersebut. Dan di waktu Azis hanya berbekal nomor Handphone (Hp) sahaja, berawal daripada nomor seluler adalah awal mula terjadinya sebuah komunikasi antara abang leting dengan adek leting yang mereka itu pernah bernaung satu Ma’had yang sama, adalah bermula daripada nomor Handphone.

Adapula akan perkenalan secara lebih dekat antara keduanya itu pun terjadi sesudah dua tahun Aziz Muhammad Zul tamat dari dayah yang mewajibkan sekalian santri-santriahnya untuk berbahasa Arab dan Inggris di pekan-pekan yang sudah terjadwal, jika sahaja, misalnya di dua pekan pada awal bulan menggunakan bahasa arab, berarti di dua pekan selanjutnya mereka diharuskan untuk menggunakan bahasa inggris dan begitulah seterusnya. Azis sudah dua tahun menjadi alumni dari sana barulah ia kenal dekat dengan Lela.

Bersambung.....


Writer; Syukri Isa Bluka Teubai.


Posted By; Belukar Aceh News.

Posting Komentar

0 Komentar