Awal Mula Daripada Pertemuan
***
-{({ 3 })}-
Adapun akan nomor
seluler milik Lela bisa ada pada pemuda tersebut adalah kerana diberikan oleh sepupunya,
di waktu pemuda itu berkunjung ke rumah sepupunya, kebetulan tak kala ia sampai
di rumah sepupunya yang seangkatan dengan Lela ia bertemu dan bisa bertatap
muka dengan dara itu adalah musim libur pertengahan tahun tengah tiba, maka
lelaki tersebut berjumpa dengan anak daripada adik lelaki ibunya. Azis memang
sering berkunjung ke rumah adik lelaki ibunya itu, tak terkecuali.
Ketika ia bertemu
dengan sepupunya tersebut, ya, seperti biasa, disapa, ditanyai tentang
sekolahnya di dayah bagaimana dan sebagainya. Beberapa sa’at kemudian muncullah
ide iseng darinya lalu kemudian ia mencandai sepupunya dengan meminta untuk
diberikan padanya nomor Handphone dari rakan-rakan perempuan yang seangkatan
dengan sepupunya tersebut, di kala waktu Azis tengah sendiri.
Sri Jum’at dara yang merupakan
anak daripada adik lelaki ibunya Azis Muhammad Zul. Yahsan, adalah sapaan Azis
dan segenap keluarga besar mereka untuk memanggil akan ayah dari Sri Jum’at, ayah
dara sepupunya tersebut sering dipanggil dengan nama lakapnya iaitu Yahsan. Perempuan
yang lahir di malam Jum’at itulah yang seangkatan dengan Lela maka dariitu,
dari si dara yang ia merupakan anak pertama di dalam keluarganya. Dari dara
yang lahir di malam Jum’at tersebut, darinyalah akan Azis memperoleh nomor
kontak Suci Lela.
Suci Lela dan Sri
Jum’at, mereka itu sama-sama masuk ke Misbahul Ulum di tahun yang sama iaitu
pada tahun 2006. Mereka itu sudahlah sama-sama melewati akanpada setiap hal,
pahit-manisnya dunia pesantren, adakala dalam hal menuntut ilmu, tinggal
sebilik, sekaligus saban mereka itu telah melewati, menghabiskan masa-masa
remajanya di Dayah Modern Misbahul Ulum, Paloh, Lhokseumawe.
Tak kala negeri Aceh
belum berdamai dengan RI, adalah kampung Meuria Paloh itu termasuk daripada
salah satu tempat basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Salah satu tokoh GAM kampung
itu yang sangat diburu pihak RI dahulu ialah Raman Paloh, namun beliau itu
telah syahid di masanya, dahulu. Juga akanpada Paya Cot Trieng yang merupakan
salah satu tempat persembunyian gerakan Aceh Merdeka di kala waktu.
Yangmana Paya Cot
Trieng yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari dayah kampung Paloh di
mana tempat dayah modern tempat Azis Muhammad Zul dan rakan-rakannya menuntut
ilmu, di waktu pada tahun 2003 itu Azis dan rakan-rakannya baru sahaja duduk di
kelas satu Tsanawiah. Adapun paya tersebut siang malam dibom-bardir oleh
tentara Republik di masa Darurat Militer melanda Aceh.
Barulah kemudian tak
kala nota kesepahaman antara RI dan GAM ditanda tangani pada tanggal 25 Agustus
2005 di Helsinki. Adalah Paya Cot Trieng dan kampung-kampung sekitar seperti
Paloh Punti, Lhoh Kumbang, Uteun Rayeuk, Lhoh Angen, Meuria Paloh dan umumnya
di seluruh daerah negeri Aceh barulah mendapati ketenangan.
Sebelum Azis Muhammad
Zul dan Suci Lela mengikrarkan akan cinta mereka secara khusus, memiliki akan
jalinan kasih antara keduanya di kala waktu, yangmana sebelum itu terjadi
akanpada hubungan antara keduanya itu sudahlah terbina bahpun melalui pesan
singkat (short message service). Lalu kemudian hubungan lewat udara tersebut
pernah terhenti tak kala nomor Handphone dara yang empat tahun berbeda umur
dengannya itu tidak bisa dihubungi lagi.
Nomor seluler milik
Lela yang ada pada pemuda kampung Bluka Teubai, yang ia juga, sama, sudah
pernah merasakan akan bagimana kehidupan menjadi seorang santri di dayah modern,
akan Azis yang juga sudah pernah merasakan bagaimana suka-duka menjadi anak
pesantren. Pemuda itu tidak bisa lagi menghubungi Suci Lela di masa.
-{({ 4 })}-
Nakeuh, nomor
handphone yang ada padanya itu tiada aktif lagi. Dan barulah pertama kali
diketahui olehnya akanpada perihal kontak dara tersebut tidak bisa dihubungi
lagi adalah setelah pemuda yang kemudian diketahui menyukai dunia sastra,
setelah beberapa kali ia mengirim pesan singkat untuk Lela namun tak pernah ada
balasan dari dara itu.
Lalu kemudian Azis
memberanikan diri untuk menelpon akan dara tersebut akan tetapi sebuah jawaban
yang sama, yang berulang-ulang akan diulang oleh pihak operator Telkomsel hanya
jawaban itu yang ia dapati; “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau
berada di luar jangkauan. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda.”
Begitulah bunyi nyaring
yang terdengar di telinganya itulah pemberitahuan daripada pihak operator yang
memberitahukan dirinya pada sa’at ia menghubungi Lela, dan pasti siapa sahaja
yang menghubungi seseorang jika panggilan teleponnya tidak masuk pada sa’at
dihubungi, akanlah sama halnya pada jawaban, yang oleh kerana memang sudah
begitunya diprogram oleh pemilik perusahaan Celluler di seluruh dunia ini.
Beberapa hari
berhingga sampai sepekan masa akan pemuda itu berturut-turut, ia masih sahaja
menghubungi akan Lela, namun tidak juga bisa terhubung. Ia pun tidak lagi
meminta akan nomor baru si perempuan yang berasal dari Matang Glumpang Dua itu
kepada Sri Jum’at anak daripada Yahsannya, yangmana dara itu supupunya. Dan dara
itulah yang seangkatan dengan Suci Lela.
Pemuda itu tidak
sekalipun pernah menyangka, bahpun di dalam mimpinya sahaja tidak pernah terpikir
akan adanya kisah asmara antara dirinya dengan Lela dan bisa menjadi sebuah
novel seperti sekarang ini, novel yang tengah berada di tangannya, novel yang
tengah dibaca ulang olehnya di malam yang tak berbintang dan pula tak ditemani
oleh sang rembulan.
“Adakah saya tengah
bermimpi?” Aziz kembali berguman sendiri di atas Balai bambu beratap rumbia
yang lantainya terbuat dari pohon pinang yang sudah dibelah-belah dan telah
dirapikan segi-seginya, pada sa’at itu sekaligus ia mencubit akan kulit di
tangan sebelah kirinya dengan menggunakan jari jemari tangan kanannya.
“Aduh, sakit,” terasa
sekali akan keperihan di tangan kirinya, begitu pula dengan pembalut akan jasad
yang berada di tempat itu, memerah, berwarna sudah akan kulit tangannya itu
setelah dicubit tadi.
Bersambung.....
Baca Juga; Elegi Berkasih di Bandar Darussalam 1.
Posted By; Belukar Aceh News.

0 Komentar