Nurul Amna
Karya; Syukri Isa Bluka Teubai
“Abang tahu, hari ulang tahunmu adalah di
tanggal 3 Desember, dek Hurria.”
“Abang selalu ingat akanpada hari yang
bertanggal 3 di setiap bulan Desember.”
“Dan tahun ini, umurmu genap sudah 24
tahun, Hurria,” Agam berguman sendiri, tangannya terus memainkan pulpen
berdawat hitam di atas selembar kertas Hvs berwarna. Pemuda itu tengah fokus
menulis sepucuk surat untuk sang kekasih tercinta, Hurria Diba.
Malam Senin dan ditemani rerintik hujan,
akan tingkap di bilik kamarnya masih terbuka namun tidak terbuka lebar, meja
kecil segi empat berwarna coklat tua menjadi saksi bisu. Tilam, kasur, bantal,
selimut, lemari baju, rak buku dan seisi bilik kamar lekaki penyuka sastra yang
kini tengah menulis sepucuk surat untuk kekasihnya, juga turut ikut menjadi
saksi bisu di malam itu.
Agam bukan tak ingat perihal akan tanggal
hari ulang tahun sang kekasih, namun, terkadang ia berpura pura untuk melupakan
akan tanggal, akan hari yang sudah menjadi bahagian daripada sejarah hidupnya.
Tanggal dan hari tersebut sudahlah menjadi sejarah bahagi dirinya selama sudah lebih
dari lima tahun ia membina hubungan dengan dara pujaannya tersebut.
Lelaki itu bukan tidak ingat akanpada hari
bahagia sang kekasih tercinta, adalah juga hari hari hari bahagia bahagi setiap
manusia oleh kerana bertambahnya masa di dalam hidupnya, oleh kerana
bertambahnya akan umur yang senantiasa masih dianugerahi Allah SWT untuk setiap
insan dan segala macam jenis makhluk-Nya.
Akan tetapi untuk 3 Desember kali ini, ia
sengaja tidak mengucap apa apa untuk perempuan peunawa hidupnya. Dan benar
sahaja tak kala di harinya mereka berjumpa, sang kekasih langsung bertanya
perihal hari ulang tahunnya kepada Agam.
Dara itu langsung bertanya kenapa kali
ini lelakinya itu tidak mengucapkan satu atawa dua patah kata do’a untuk
dirinya, kenapa lelakinya itu di bulan Desember tahun ini sudah berbeda,
lelakinya itu sudah tidak seperti dahulu lagi, tidak seperti di tahun tahun
yang lalu.
Adapun Agam tak langsung menjawab
pertanyaan sang kekasih, yangmana sang daranya itu langsung sahaja bertanya
kepada dirinya perihal hari ulang tahunnya, perihal Agam tidak mengucapkan satu
dua patah kata untuknya, Hurria tidak menunggu lama untuk bertanya padahal
mereka baru sahaja sampai di kedai kopi.
Bahpun demikian Agam membiarkan daranya
tersebut berkata kata, berkata ini dan itu bahpun kala mereka baru sahaja berjumpa,
di waktu, keduanya itu bertemu di kedai kopi langganan. Dan jika nak bertemu
muka, bertukar tukar cerita mereka pasti akan berjumpa di kedai tersebut.
Pada sa’at kekasihnya berkata kata Agam
hanya melihat ke arah daranya sembari tersenyum dan menyimak semua keluh kesah
pujaan hatinya, tentulah sang kekasih pujaan itu adalah Hurria Diba, namun
daranya tidak berkata kata dengan nada tinggi, kerana mereka tengah berada di
kedai kopi. Lagipula keduanya itu sekalipun tidak pernah berucap dengan nada
tinggi antara satu sama lainnya.
Akan kedai kopi ‘Nanggroe’ yang berada di
Simpang Tujuh Ulee Kareng merupakan kedai langganan bahagi keduanya, sekalian
pekerja mahupun toke kedai akan minuman khas sekaligus minuman terfavorit dan
hampir semua orang Aceh merupakan pecinta minuman beraroma tertentu tersebut, sekalian
mereka sudahlah tahu dan sangat kenal akan Agam dan Hurria.
Hari Ahad yang bertanggal angka 3 di
bulan Desember tahun ini berlalu, hampir setengah hari mereka berada di kedai
kopi Nanggroe. Kini, mereka sudah kembali ke Kosan masing masing. Minggu malam
atawa malam Senin, Agam baru memulai untuk menulis sepucuk surat untuk kekasihnya,
Hurria Diba.
Ia menulis surat tersebut bukan kerana
sang pujaannya itu telah mengomelinya tak kala mereka berjumpa, bukanlah
bersabab daripada omelan Hurria daranya, tapi, hanya kerana sahaja Agam ingin
menulis surat itu di malam sesudah hari ulang tahun daranya.
Beberapa hari, sebelum harinya Hurria berulang
tahun ia sudah mempersiapkan diri untuk diomeli oleh kekasihnya kerana, memang,
ia sudah berniat tak akan mengucap sepatah atawa dua patah kata do’a untuk
daranya, tepat di malam tersebut. Ia hanya akan mengucap kata selamat mengulang
tahun kepada sang pujaan, selepas dari malam dan hari Ahad.
Adalah di malam Isnin, sekarang ini ia
nak mengucapkannya, maka baru sekaranglah ia akan mengucapkan kata kata selamat
mengulang tahun untuk daranya. Lelaki penyuka sastra itu menyampaikan kata kata
selamat untuk daranya melalui sepucuk surat yang akan ditulis, kini.
Hurria Diba, sang kekasih pujaan tidak
tahu bahawa Agam akan menulisnya sepucuk surat ulang tahun, dara itu berpikir
bahawa lelaki terkasihnya tersebut tidak akan lagi mahu untuk mendo’akannya
dengan sepatah dua patah kata do’a kerana hari bahagia itu sudah pun berlalu.
Agam terus menulis, gerimis hujan, pun,
sudah pergi dan tidak lagi menemani dirinya yang tengah sendiri di malam
tersebut. Pulpennya yang berdawat hitam terus menari nari di atas kertas hvs
berwarna, malam semakin pekat dan sunyi, sesekali ia menoleh ke luar melalui
tingkap bilik kamarnya yang masih terbuka.
Pukul 00;00 Waktu Indonesia bahagian
Barat pun tiba, tanggal berganti dari tiga menjadi empat. Surat untuk sang
kekasih pun hampir selesai ditulisnya, huruf furuf abjad tertulis tegak dan
bersambung, huruf huruf itu tertulis rapi di atas kertas hvs berwarna.
Tanggal 4 Desember, kini, sudah dan
tengah menyapa dirinya, sebuah senyuman merekah di bibir mulut wajahnya.
Keinginannya untuk menulis sepucuk surat buat sang kekasih di malam 4 Desember
sudah tercapai. Sepucuk surat itu telah selesai ditulisnya untuk sang kekasih
tercinta, Hurria Diba.
Syukri Isa Bluka Teubai, penyuka sastra.
Posted By; Belukar Aceh News.

0 Komentar